Senin, 02 Mei 2011

literatur review, kerangka konsep dan hipotesis penelitian


A.    Literatur Review
Merupakan analisa berupa kritik (membangun maupun menjatuhkan) dari penelitian yang sedang dilakukan terhadap topik khusus atau pertanyaan terhadap suatu bagian dari keilmuan.

Tujuan dari Literatur Review adalah untuk:
1.      Membentuk sebuah kerangka teoritis untuk topik/bidang penelitian
2.      Menjelaskan definisi, kata kunci dan terminology
3.      Menentukan studi, model, studi kasus yang mendukung topik
4.      Menentukan lingkup penelitian

Langkah-langkah dalam Literatur Review
1.      Langkah 1: Membaca tulisan-tulisan ilmiah terkait
a.       Tahap 1
Perhatikan struktur dan teks misalnya daftar isi, abstrak, heading dan sub-headings, untuk melihat apakah teks itu cocok untuk tujuan anda.
b.      Tahap 2
Jika teks terlihat cocok untuk tujuan anda maka baca dengan lebih detil untuk mencari penelitian tertentu yang akan mendukung Literature Review. Teknik ini memungkinkan untuk mengidentifikasi materi yang cocok dengan membaca secara luas dan untuk memperoleh pengertian umum mengenai literatur yang ada di bidang anda.

2.      Langkah 2: Mengevaluasi semua tulisan ilmiah yang dibaca
Tulisan ilmiah berkualitas adalah Jurnal elektronis dan database. Hati-hati dalam melakukan google search yang menghasilkan site yang tidak qualified dan pastikan dari mana asal dan sumber riset.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam mengevaluasi tulisan ilmiah:
a.       Akurasi
Pastikan apakah literatur ini akurat dengan cara mengecek apakah penelitian yang sama diacu di sumber lain atau apakah sumber ini tidak konsisten dengan sumber lain. Dan pastikan literatur berasal dari sumber terpercaya.
b.      Obyektivitas
1)      Apakah ada bukti bias dalam artikel? Misalnya, apakah anda akan percaya riset dari pabrik rokok yang menyatakan bahwa merokok tidak membahayakan kesehatan?
2)      Apakah statistik sesuai dengan publikasi lain? Jika tidak, apakah argument (metode, rancangan penelitian dll) yang dipakai dasar cukup meyakinkan?
3)      Bagaimana anda mengetahui kalo data yang dimuat adalah benar? Data pendukung apa yang tersedia?
c.       Kemutakhiran
1)      Pastikan kapan tanggal publikasi material.
2)      Pastikan apakah mungkin ada informasi yang lebih terbaru dan menimbulkan keraguan atau menentang beberapa temuan yang sudah ada.
d.      Cakupan
1)      Informasi dari literatur yang tersedia harus lengkap dan mencakup bidang yang diteliti.
2)      Pastikan pakah ada penelitian lebih lanjut yang tidak disebut atau secara sengaja dihilangkan dari penemuan?

3.      Langkah 3: Buat ringkasan  publikasi-publikasi tersebut
Buatlah catatan saat membaca literatur mengenai:
a.       Apakah poin/teori/masalah utama yang diangkat dalam teks misalnya buku atau artikel?
b.      Rangkum poin utama yang diajukan pengarang.
c.       Catat detil kuotasi, atau halaman referensi yang anda anggap mungkin berguna dalam Literature Review.
d.      Pastikan anda memiliki semua informasi seperti pengarang, tanggal dan tahun, judul buku, sumber, penerbit buku/jurnal, halaman, tujuan penelitian, hipotesis, metode penelitian, material, desain eksperimen, dan hasil/data.
e.       Catat bagaimana pengarang menggunakan materi asal. Jika anda meniru kata-kata pengarang secara langsung pastikan anda menempatkannya dalam tanda petik dan menyebut halamannya.
f.       Apa kesimpulan yang dibuat oleh pengarang?
g.      Poin apa yang mendukung kesimpulan?
h.      Tulis juga pendapat anda tentang bacaan tersebut. Hal ini akan berguna saat anda melihat kembali catatan yang anda buat atau menggunakannya saat menulis.

4.      Langkah 4: Gabungkan menjadi satu cerita ilmiah yang lengkap mengenai suatu permasalahan

Sumber-sumber Literatur Review
Sumber-sumber literatur dapat berupa sumber utama yang berasal dari jurnal, laporan penelitian, informasi dari wawancara/email, sumber lanjutan yang merupakan analisa terhadap sumber utama dan sumber yang berasal dari komunitas professional.

Cara Membaca Sumber
1.      Skimming
Merupakan proses membaca dokumen objek secara cepat sambil mengambil inti-inti dari setiap paragrap. Skimming dapat membantu melakukan review dengan lebih cepat dan menyeluruh.
2.      Paragraph Statement (Kalimat Utama di dalam suatu paragraph)
Yaitu membaca kalimat terpenting di dalam suatu paragraph yang berguna untuk membantu mengerti paragraph objek
3.      Document Statement (Kalimat Permasalahan/Tema Penelitian)
Yaitu membaca statement utama dalam dokumen objek yang berguna untuk membantu mengerti tema keseluruhan.





B.     Tinjauan Pustaka
1.      Tinjauan Teori
Tinjauan pustaka atau kajian terhadap pustaka yang relevan bermaksud untuk:
a.       Menemukan konsep-konsep yang relevan dengan pokok masalah yang dibahas dalam penelitian.
b.      Menggali teori-teori yang relevan dengan permasalahan
c.       Menelaah hasil-hasil penelitian yang lampau yang sangat erat kaitannya dengan pokok-pokok masalah yang akan dibahas.
d.      Menyusun suatu kerangka yang akan digunakan sebagai tumpuan semua kegiatan berikutnya.
e.       Menyusun dugaan-dugaan (hipotesis) yang dapat memberikan arah yang jelas bagi pengumpulan data dan analisisnya ( Sutrisno Hadi, 1991, dalam mantra 2004)

Di dalam penilaian ilmiah, sumber pustaka dianggap primer bila berupa laporan hasil penelitian termasuk yang telah dimuat dalam jurnal, sedangkan teks book adalah sekunder, demikian juga sumber-sumber lain. Hal tersebut disebabkan karena hasil penelitian adalah asli atau orisinal, sedangkan buku teks dan lainnya adalah sudah digeneralisasikan oleh penulisnya (Semangun, 1992 dalam mantra, 2004). Disamping itu buku-buku teks adalah hasil kompilasi dari berbagai tulisan orang lain pula. Adapun sumber-sumber selain laporan hasil penelitian dan buku teks tersebut diantaranya surat kabar, pernyataan lisan, karya tak diterbitkan, publikasi pemerintah, eksiklopedia, hukum dan perundang undangan. (Hadi,2001).
Kesimpulan dari tinjauan pustaka ini akan menjadi landasan teori, dari penelitian itu atau merupakan kerangka pikir untuk menyelesaikan penelitian tersebut. Oleh karena itu kesimpulannya disebut landasan teori atau kerangka teori atau kerangka pikir. Dari landasan teori itu atau kerangka teori itu maka dapat dibuat suatu kerangka konsep penelitian.
Jadi pada garis besarnya isi dari tinjauan pustaka adalah kajian atau review terhadap teori, kaidah atau standar, yang berlaku saat ini yang dapat dijadikan petunjuk tentang arah atau dasar dari penelitian yang akan dilakukan.
Dengan demikian dari kajian tersebut akan diperoleh kerangka berpikir baru yang dapat, dijadikan dasar penyusunan hipotesis atau jawaban sementara dari masalah yang akan diteliti. Oleh karena dari hasil telaah pustaka mungkin sekali diperoleh sumber dan hasil yang lebih luas dari rumusan permasalahannya sendiri, maka perlu dibuat suatu kerangka konsep, terbatas pada rumusan masalah yang hendak dipecahkan, untuk kemudian dijadikan dasar membuat hipotesis, yang terbatas pada konsep yakni konsep yang hendak diteliti.

2.      Kerangka teori atau landasan teori.
Kerangka teori adalah visualisasi yang biasanya dalam bentuk bagan, dari kesimpulan hasil telaah pustaka yang menggambarkan hubungan-hubungan (yang secara teoritis dapat terjadi) antara variabel satu dengan variabel lainnya berdasarkan telaah pustaka yang dilakuakan. Dengan melihat kerangka teori ini, diharapkan dapat memudahkan peneliti untuk membuat hipotesis-hipotesis baru, sesuai dengan permasalahannya. Bila kerangka teori itu digambarkan dalam bentuk bagan, maka istilah landasan teori, maksudnya adalah bila kesimpulan hasil telaah pustaka itu divisualisasikan dalam bentuk narasi atau uraian kalimat-kalimat. Jadi bisa saja di bagian ini, peneliti membuat landasan teori terlebih dahulu, kemudian dibuat kerangka teori berupa bagan.

3.      Kerangka Konsep
Kerangka konsep adalah kelanjutan dari kerangka teori atau landasan teori yang disesuaikan dengan tujuan khusus penelitian yang akan dicapai, yakni sesuai dengan apa yang ditulis di dalam rumusan masalah. Artinya hal ini lebih difokuskan untuk memudahkan di dalam menyusun hipotesis, yang pasti harus dijawab, bukan yang mungkin akan dijawab. Apakah jawaban hipotesis nantinya terbukti atau tidak, keduanya adalah hasil  penelitian yang menjadi tujuan penelitian tersebut. Jadi, kerangka konsep menggambarkan hubungan-hubungan yang lebih terbatas dan spesifik antara variabel-variabel yang akan diteliti saja. Sementara pada kerangka teori seluruh variabel yang ada digambarkan semuanya, yang disimpulkan dari kajian teori.
A.    Hipotesis
Hipotesis merupakan pernyataan singkat sebagai jawaban atas pertanyaan yang dipaparkan di dalam rumusan masalah. Setelah melakukan kajian teoritis, membuat kerangka teori, kemudian menyusun kerangka konsep. Dari kerangka konsep tersebut dapat dibuat atau dapat di deskripsikan dalam bentuk kalimat-kalimat yang menyatakan hipotesis-hipotesis. Variabel yang tidak diteliti harus dikontrol, sebagai variabel pengganggu.
Akan tetapi, adanya kerangka konsep bukan berarti harus ada hipotesis. Pada penelitian deskriptif kuantitatif, yang akan meneliti data-data populasi, dan akan mendeskripsikan dalam bentuk : prosentase-prosentase data secara ordinal, mean, deviasi standar, range, maka tidak ada hipotesis.

1.      Kegunaan Hipotesis
Kegunaan hipotesis secara garis besar adalah:
a.      Memberikan batasan dan memperkecil jangkauan penelitian dan kerja penelitian.
b.      Mensiagakan peneliti kepada kondisi fakta dan hubungan antar fakta, yang kadangkala hilang begitu saja dari perhatian peneliti.
c.       Sebagai alat yang sederhana dalam memfokuskan fakta yang bercerai-berai tanpa koordinasi ke dalam suatu kesatuan penting dan menyeluruh.
d.      Sebagai panduan dalam pengujian serta penyesuaian dengan fakta dan antar fakta.

2.      Macam-macam Hipotesis
Menurut Pratiknya (2001), hipotesis dapat digolongkan dalam beberapa jenis yaitu:
a.       Hipotesis Kerja
Hipotesis ini menunjukkan hubungan-hubungan antar variabel yang merupakan pernyataan dalam bentuk kalimat.hipotesis kerja ada dua macam, yaitu hipotesa satu arah/satu pihak dan hipotesa dua arah/dua pihak.


b.      Hipotesis nihil/ hipotesis nol
Hipotesis nol berarti secara statistik tidak ada hubungan atau tidak ada perbedaan antar variabel yang dinyatakan dalam hipotesa kerja.
c.       Hipotesis tandingan
Adalah hipotesis luar atau variabel pengganggu atau variabel yang tidak dikehendaki, tetapi ada dan mempengaruhi variabel pengaruh. Variabel pengganggu ini harus dikontrol agar pengaruhnya dapat dihilangkan.

3.      Tahap-tahap pembentukan hipotesis
Tahap-tahap pembentukan hipotesis pada umumnya sebagai berikut:
a.       Penentuan masalah.
Dasar penalaran ilmiah ialah kekayaan pengetahuan ilmiah yang biasanya timbul karena sesuatu keadaan atau peristiwa yang terlihat tidak atau tidak dapat diterangkan berdasarkan hukum atau teori atau dalil-dalil ilmu yang sudah diketahui. Dasar penalaran pun sebaiknya dikerjakan dengan sadar dengan perumusan yang tepat. Dalam proses penalaran ilmiah tersebut, penentuan masalah mendapat bentuk perumusan masalah.
b.      Hipotesis pendahuluan atau hipotesis preliminer (preliminary hypothesis).
Dugaan atau anggapan sementara yang menjadi pangkal bertolak dari semua kegiatan. Ini digunakan juga dalam penalaran ilmiah. Tanpa hipotesa preliminer, observasi tidak akan terarah. Fakta yang terkumpul mungkin tidak akan dapat digunakan untuk menyimpulkan suatu konklusi, karena tidak relevan dengan masalah yang dihadapi. Karena tidak dirumuskan secara eksplisit, dalam penelitian, hipotesis priliminer dianggap bukan hipotesis keseluruhan penelitian, namun merupakan sebuah hipotesis yang hanya digunakan untuk melakukan uji coba sebelum penelitian sebenarnya dilaksanakan.
c.       Pengumpulan fakta.
Dalam penalaran ilmiah, diantara jumlah fakta yang besarnya tak terbatas itu hanya dipilih fakta-fakta yang relevan dengan hipotesa preliminer yang perumusannya didasarkan pada ketelitian dan ketepatan memilih fakta.
d.      Formulasi hipotesa.
Pembentukan hipotesa dapat melalui ilham atau intuisi, dimana logika tidak dapat berkata apa-apa tentang hal ini. Hipotesa diciptakan saat terdapat hubungan tertentu diantara sejumlah fakta. Sebagai contoh sebuah anekdot yang jelas menggambarkan sifat penemuan dari hipotesa, diceritakan bahwa sebuah apel jatuh dari pohon ketika Newton tidur di bawahnya dan teringat olehnya bahwa semua benda pasti jatuh dan seketika itu pula dilihat hipotesanya, yang dikenal dengan hukum gravitasi.
e.       Pengujian hipotesa
Artinya mencocokkan hipotesa dengan keadaan yang dapat diobservasi dalam istilah ilmiah hal ini disebut verifikasi(pembenaran). Apabila hipotesa terbukti cocok dengan fakta maka disebut konfirmasi. Terjadi falsifikasi(penyalahan) jika usaha menemukan fakta dalam pengujian hipotesa tidak sesuai dengan hipotesa, dan bilamana usaha itu tidak berhasil, maka hipotesa tidak terbantah oleh fakta yang dinamakan koroborasi(corroboration). Hipotesa yang sering mendapat konfirmasi atau koroborasi dapat disebut teori.
f.       Aplikasi/penerapan.
Apabila hipotesa itu benar dan dapat diadakan menjadi ramalan (dalam istilah ilmiah disebut prediksi), dan ramalan itu harus terbukti cocok dengan fakta. Kemudian harus dapat diverifikasikan/koroborasikan dengan fakta

4.      Menguji Hipotesis
Hipotesis berfungsi untuk memberi suatu penyataan terkaan tentang hubungan tentative antara fenomena-fenomena dalam penelitian. Kemudian hubungan tersebut diuji validitas dan reliabilitasnya menurut teknik-teknik yang sesuai untuk keperluan pengujian.
Untuk menguji hipotesis diperlukan :
a.       Data atau fakta dan kerangka pengujian hipotesis harus ditetapkan dahulu sebelum si peneliti mengumpulkan data
b.      Pengetahuan yang luas tentang kerangka teori, penguasaan penggunaan teori secara logis, statistik dan teknik-teknik pengujian. Cara pengujian hipotesis tergantung pada metode desain penelitian yang digunakan.

B.     Pertanyaan Penelitian
Salah satu persoalan mendasar dan menjadi bagian penting yang tak terpisahkan dalam penelitian adalah rumusan pertanyaan penelitian. Sebab, kualitas penelitian salah satunya sangat  ditentukan oleh bobot atau kualitas pertanyaan yang diajukan. Tetapi kenyatannya masih terdapat banyak persoalan terkait rumusan pertanyaan penelitian.
Banyak pertanyaan yang diajukan tidak jelas dan tidak layak sebagai pertanyaan penelitian. Betapapun menariknya tema atau topik yang akan diteliti, tetapi jika pertanyaannya tidak dirumuskan  dengan baik, penelitian tersebut tidak menarik minat orang. Sehingga, hasil penelitian tidak banyak memberikan nilai guna karena tidak dibaca orang. Padahal, salah satu syarat penelitian yang baik adalah memberikan nilai guna, baik secara teoretik maupun praktis.
Selain itu, sering terjadi tumpang tindih antara pertanyaan untuk metode penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif.  Padahal, masing-masing berbeda secara tajam, mulai paradigma yang melandasi kedua metode tersebut, tujuan, hakikat realitas, cara perolehan data, analisis data, hingga temuan akhirnya. Karena itu, merumuskan masalah penelitian harus cermat dan hati-hati. Diperlukan waktu untuk merenungkannya sehingga terwujud rumusan pertanyaan penelitian yang memenuhi syarat ilmiah yang baik. Setiap kata dalam rumusan masalah berimplikasi sangat luas, baik secara substantif, teoretik maupun metodologis. Karena itu, harus jelas, tidak saja bagi peneliti tetapi juga bagi pembacanya. 
Pada hakikatnya pertanyaan penelitian dirumuskan dengan melihat kesenjangan yang terjadi antara:
1.      Apa yang seharusnya terjadi (prescriptive) dan yang sebenarnya terjadi (descriptive)
2.      Apa yang diperlukan (what is needed) dan apa yang tersedia (what is available)
3.      Apa yang diharapkan (what is expected) dan apa yang dicapai (what is achieved)

Syarat-syarat Pertanyaan Penelitian:
Pertanyaan penelitian selalu diawali dengan munculnya masalah yang sering disebut sebagai fenomena atau gejala tertentu. Tetapi tidak semua masalah bisa diajukan sebagai masalah penelitian. Ada syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi agar bisa diangkat sebagai masalah penelitian. Setidaknya terdapat tujuh syarat yang harus dipenuhi, yaitu:
1.      Tersedia data atau informasi untuk menjawabnya,
2.      Data atau informasi tersebut diperoleh melalui metode ilmiah, seperti wawancara, observasi, kuesioner, dokumentasi, partisipasi, dan evaluasi/tes,
3.      Memenuhi persyaratan orisinalitas, diketahui melalui pemetaan penelitian terdahulu (state of the arts),
4.      Memberikan sumbangan teoretik yang berarti bagi pengembangan ilmu pengetahuan,
5.      Menyangkut isu kontroversial dan unik yang sedang hangat  terjadi,
6.      Masalah tersebut memerlukan jawaban serta pemecahan segera, tetapi jawabannya belum diketahui masyarakat luas, dan
7.      Masalah itu diajukan dalam  batas  minat  (bidang studi) dan kemampuan peneliti.
Untuk mencapai maksud tersebut di atas, peneliti perlu melakukan pertanyaan reflektif sebagai pemandu. Menurut Raco (2010: 98-99), ada beberapa pertanyaan awal untuk dijawab sebagai berikut:
1.      Mengapa masalah tersebut penting untuk diangkat,
2.      Bagaimana kondisi sosial di sekitar peristiwa, fakta atau gejala yang akan  diteliti,
3.      Proses apa yang sebenarnya terjadi di sekitar peristiwa  tersebut,
4.      Perkembanghan atau pergeseran apa yang sedang berlangsung pada waktu peristiwa terjadi, dan
5.      Apa manfaat penelitian tersebut baik bagi pengembangan ilmu pengetahun dan masyarakat secara luas di masa yang akan datang.
Jenis-jenis Pertanyaan Penelitian
1.      Deskriptif (yakni mendeskripsikan fenomena atau gejala yang diteliti apa adanya), dengan menggunakan kata tanya ‘apa’. Lazimnya diajukan untuk pertanyaan penelitian kualitatif.
Contoh: Apa saja strategi yang dipakai Kepala Sekolah dalam memajukan sekolah yang dipimpinnya?
2.      Eksploratorif (yakni untuk memahami gejala atau fenomena secara mendalam), dengan menggunakan kata tanya “bagaimana”. Lazimnya diajukan untuk pertanyaan penelitian kualitatif.
Contoh: Bagaimana model kepemimpinan Kepala Sekolah tersebut dalam upaya memajukan sekolah?
3.      Eksplanatif  (yakni untuk menjelaskan pola-pola yang terjadi terkait dengan fenomena yang dikaji, dengan mengajukan pertanyaan ‘apa ada hubungan atau korelasi, pengaruh antara faktor X dan Y). Lazimnya untuk pertanyaan penelitian kuantitatif.
Contoh: Bagaimana pengaruh model kepemimpinan otoriter terhadap kepatuhan staf?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar