Selasa, 19 April 2011

askep abortus insipien


A. Landasan Teori
1. Pengertian Abortus
Abortus atau keguguran adalah terhentinya kehamilan sebelum janin dapat bertahan hidup, yaitu sebelum kehamilan berusia 20 minggu atau berat janin belum mencapai 500 gram. Abortus biasanya ditandai dengan terjadinya perdarahan pada wanita yang sedang hamil. Dengan adanya peralatan USG, sekarang dapat diketahui bahwa abortus dapat dibedakan menjadi 2 jenis. Yang pertama adalah  abortus karena kegagalan perkembangan janin dimana gambaran USG menunjukkan kantong kehamilan yang kosong, sedangkan jenis yang kedua adalah abortus karena kematian janin, di mana janin tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan seperti denyut jantung atau pergerakan yang sesuai dengan usia kehamilan.
2. Etiologi
            Delapan puluh persen kejadian abortus terjadi pada usia kehamilan sebelum 12 minggu.  Risiko terjadinya abortus meningkat dengan meningkatnya jumlah kehamilan, umur ibu dan umur ayah.  Risiko ini juga meningkat jika seorang ibu langsung hamil kembali 3 bulan setelah melahirkan.  Penyebab abortus  dapat dibagi menjadi 3 faktor yaitu
a.     Faktor janin   
Faktor janin penyebab keguguran adalah kelainan genetik,  dan ini terjadi pada    50%-60% kasus keguguran. 
b.     Faktor ibu   
1.     kelainan endokrin (hormonal) misalnya kekurangan tiroid, kencing manis.
2.     faktor kekebalan (imunologi), misalnya pada penyakit lupus, Anti phospholipid syndrome
3.     infeksi, diduga akibat beberapa virus seperti cacar air, campak jerman, toksoplasma , herpes, klamidia.
4.     kelemahan otot leher rahim
5.     Kelainan bentuk rahim.
c.      Faktor Bapak
Kelainan kromosom dan infeksi sperma diduga dapat menyebabkan abortus
3. Patofisiologi
Pada awal abortus terjadi perdarahan desiduabasalis, diikuti dengan nerkrosis jaringan sekitar yang menyebabkan hasil konsepsi terlepas dan dianggap benda asing dalam uterus. Kemudian uterus berkontraksi untuk mengeluarkan benda asing tersebut.
Pada kehamilan kurang dari 8 minggu, villi korialis belum menembus desidua secara dalam jadi hasil konsepsi dapat dikeluarkan seluruhnya. Pada kehamilan 8 sampai 14 minggu, penembusan sudah lebih dalam hingga plasenta tidak dilepaskan sempurna dan menimbulkan banyak perdarahan. Pada kehamilan lebih dari 14 minggu janin dikeluarkan terlebih dahulu daripada plasenta hasil konsepsi keluar dalam bentuk seperti kantong kosong amnion atau benda kecil yang tidak jelas bentuknya (blightes ovum),janin lahir mati, janin masih hidup, mola kruenta, fetus kompresus, maserasi atau fetus papiraseus.
4. Manifestasi Klinis
·        Terlambat haid atau amenorhe kurang dari 20 minggu
·        Pada pemeriksaan fisik : keadaan umum tampak lemah kesadaran menurun, tekanan darah normal atau menurun, denyut nadi normal atau cepat dan kecil, suhu badan normal atau meningkat
·        Perdarahan pervaginam mungkin disertai dengan keluarnya jaringan hasil konsepsi
·        Rasa mulas atau kram perut, didaerah atas simfisis, sering nyeri pingang akibat kontraksi uterus
5. Komplikasi
·        Perdarahan, perforasi, syok dan infeksi
·        Pada missed abortion dengan retensi lama hasil konsepsi dapat terjadi kelainan pembekuan darah

6. Pemeriksaan Penunjang
a. Tes Kehamilan
Positif bila janin masih hidup, bahkan 2-3 minggu setelah abortus
b. Pemeriksaaan Doppler atau USG untuk menentukan apakah janin masih hidup
c. Pemeriksaan kadar fibrinogen darah pada missed abortion
7. Diagnosa Banding
Kehamilan etopik terganggu, mola hidatidosa, kehamilan dengan kelainan serviks. Abortion imiteins perlu dibedakan dengan perdarahan implantasi yang biasanya sedikit, berwarna merah, cepat terhenti, dan tidak disertai mules-mules.
 8. Jenis – Jenis Abortus
            Jenis abortus berdasarkan gejalanya dapat dibagi menjadi 5, yaitu:
1.     Abortus Mengancam
2.     Abortus insipien
3.     Abortus inkomplit
4.     Abortus komplit
5.     Missed abortion (abortus tertahan)





B. Abortus Insipiens
1. Pengertian
Abortus Insipiens adalah peristiwa perdarahan uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan adanya dilatasi serviks uteri yang meningkat tetapi hasil konsepsi masih dalam uterus. Dalam hal ini rasa mules menjadi lebih sering dan kual perdarahan bertambah. Pengeluaran hasil konsepsi dapat dilaksanakan dengan kuret vakum atau dengan cunam ovum, disusul dengan kerokan.
Perdarahan saat awal kehamilan di mana walaupun belum ada jaringan yang keluar namun mulut rahim sudah terbuka.  Pada keadaan seperti ini, kehamilan ini tidak dapat dipertahankan. Jaringan di dalam rahim harus dibersihkan, baik dengan pemberian obat ataupun dengan cara kuret. Perdarahan tersebut ringan hingga sedang pada kehamilan muda dimana hasil konsepsi masih berada dalam kavum uteri kondisi ini menunjukkan proses abortus sedang berlangsung dan akan berlanjut menjadi abortus inkomplit atau komplit  selain itu Abortus Insipien. Ialah  buah kehamilan yang mati di dalam kandungan-lepas dari tempatnya- tetapi belum dikeluarkan. Hampir serupa dengan itu, ada yang dikenal missed Abortion, yakni buah kehamilan mati di dalam kandungan tetapi belum ada tanda-tanda dikeluarkan.
2. Penanganan
Penanganan Abortus Insipiens meliputi :
1.     Jika usia kehamilan kurang 16 minggu, lakukan evaluasi uterus dengan aspirasi vakum manual. Jika evaluasi tidak dapat, segera lakukan:
2.     Berikan ergomefiin 0,2 mg intramuskuler (dapat diulang setelah 15 menit bila perlu) atau misoprostol 400 mcg per oral (dapat diulang sesudah 4 jam bila perlu).
3.     Segera lakukan persiapan untuk pengeluaran hasil konsepsi dari uterus.
4.     Jika usia kehamilan lebih 16 minggu :
5.     Tunggu ekspulsi spontan hasil konsepsi lalu evaluasi sisa-sisa hasil konsepsi.
6.     Jika perlu, lakukan infus 20 unit oksitosin dalam 500 ml cairan intravena (garam fisiologik atau larutan ringer laktat dengan kecepatan 40 tetes permenit untuk membantu ekspulsi hasil konsepsi.
7.     Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan

C. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
Pengkajian adalah pendekatan sistematis untuk mengumpulkan data dan menganalisanya sehingga dapat diketahui masalah dan kebutuhan perawatan bagi klien.
Adapun hal-hal yang perlu dikaji adalah :
Biodata : mengkaji identitas klien dan penanggung yang meliputi ; nama, umur, agama, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan, status perkawinan, perkawinan ke- , lamanya perkawinan dan alamat
Keluhan utama : Kaji adanya menstruasi tidak lancar dan adanya perdarahan pervaginam berulang
Riwayat kesehatan , yang terdiri atas :
Riwayat kesehatan sekarang yaitu keluhan sampai saat klien pergi ke Rumah Sakit atau pada saat pengkajian seperti perdarahan pervaginam di luar siklus haid, pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan.
Riwayat kesehatan masa lalu
Riwayat pembedahan : Kaji adanya pembedahan yang pernah dialami oleh klien, jenis pembedahan , kapan , oleh siapa dan di mana tindakan tersebut berlangsung.
Riwayat penyakit yang pernah dialami : Kaji adanya penyakit yang pernah dialami oleh klien misalnya DM , jantung , hipertensi , masalah ginekologi/urinary , penyakit endokrin , dan penyakit-penyakit lainnya.
Riwayat kesehatan keluarga : Yang dapat dikaji melalui genogram dan dari genogram tersebut dapat diidentifikasi mengenai penyakit turunan dan penyakit menular yang terdapat dalam keluarga.
Riwayat kesehatan reproduksi : Kaji tentang mennorhoe, siklus menstruasi, lamanya, banyaknya, sifat darah, bau, warna dan adanya dismenorhoe serta kaji kapan menopause terjadi, gejala serta keluahan yang menyertainya
Riwayat kehamilan , persalinan dan nifas : Kaji bagaimana keadaan anak klien mulai dari dalam kandungan hingga saat ini, bagaimana keadaan kesehatan anaknya.
Riwayat seksual : Kaji mengenai aktivitas seksual klien, jenis kontrasepsi yang digunakan serta keluahn yang menyertainya.
Riwayat pemakaian obat : Kaji riwayat pemakaian obat-obatankontrasepsi oral, obat digitalis dan jenis obat lainnya.
Pola aktivitas sehari-hari : Kaji mengenai nutrisi, cairan dan elektrolit, eliminasi (BAB dan BAK), istirahat tidur, hygiene, ketergantungan, baik sebelum dan saat sakit.
Pemeriksaan fisik, meliputi :
1. Inspeksi adalah proses observasi yang sistematis yang tidak hanya terbatas pada penglihatan tetapi juga meliputi indera pendengaran dan penghidung.
Hal yang diinspeksi antara lain :
mengobservasi kulit terhadap warna, perubahan warna, laserasi, lesi terhadap drainase, pola pernafasan terhadap kedalaman dan kesimetrisan, bahasa tubuh, pergerakan dan postur, penggunaan ekstremitas, adanya keterbatasan fifik, dan seterusnya
2. Palpasi adalah menyentuh atau menekan permukaan luar tubuh dengan jari.
Sentuhan : merasakan suatu pembengkakan, mencatat suhu, derajat kelembaban dan tekstur kulit atau menentukan kekuatan kontraksi uterus.
Tekanan : menentukan karakter nadi, mengevaluasi edema, memperhatikan posisi janin atau mencubit kulit untuk mengamati turgor.
Pemeriksaan dalam : menentukan tegangan/tonus otot atau respon nyeri yang abnormal
3. Perkusi adalah melakukan ketukan langsung atau tidak langsung pada permukaan tubuh tertentu untuk memastikan informasi tentang organ atau jaringan yang ada dibawahnya.
Menggunakan jari : ketuk lutut dan dada dan dengarkan bunyi yang menunjukkan ada tidaknya cairan , massa atau konsolidasi.
Menggunakan palu perkusi : ketuk lutut dan amati ada tidaknya refleks/gerakan pada kaki bawah, memeriksa refleks kulit perut apakah ada kontraksi dinding perut atau tidak
4. Auskultasi adalah mendengarkan bunyi dalam tubuh dengan bentuan stetoskop dengan menggambarkan dan menginterpretasikan bunyi yang terdengar. Mendengar : mendengarkan di ruang antekubiti untuk tekanan darah, dada untuk bunyi jantung/paru abdomen untuk bising usus atau denyut jantung janin.
(Johnson & Taylor, 2005 : 39)
Pemeriksaan laboratorium :
Darah dan urine serta pemeriksaan penunjang : rontgen, USG, biopsi, pap smear.
Keluarga berencana : Kaji mengenai pengetahuan klien tentang KB, apakah klien setuju, apakah klien menggunakan kontrasepsi, dan menggunakan KB jenis apa.
Data lain-lain :
Kaji mengenai perawatan dan pengobatan yang telah diberikan selama dirawat di RS.Data psikososial.
Kaji orang terdekat dengan klien, bagaimana pola komunikasi dalam keluarga, hal yang menjadi beban pikiran klien dan mekanisme koping yang digunakan.
Status sosio-ekonomi : Kaji masalah finansial klien
Data spiritual : Kaji tentang keyakinan klien terhadap Tuhan YME, dan kegiatan keagamaan yang biasa dilakukan.




2. Diagnosa Keperawatan
·        Devisit Volume Cairan s.d perdarahan
·        Gangguan Aktivitas s.d kelemahan, penurunan sirkulasi
·        Gangguan rasa nyaman: Nyeri s.d kerusakan jaringan intrauteri
·        Resiko tinggi Infeksi s.d perdarahan, kondisi vulva lembab
·        Cemas s.d kurang pengetahuan
3. Intervensi Keperwatan
a. Devisit Volume Cairan b.d Perdarahan
Tujuan :
Tidak terjadi devisit volume cairan, seimbang antara intake dan output baik jumlah maupun kualitas.
Intervensi :
1. Kaji kondisi status hemodinamika
Rasional : Pengeluaran cairan pervaginal sebagai akibat abortus memiliki karekteristik bervariasi
2. Ukur pengeluaran harian
Rasional : Jumlah cairan ditentukan dari jumlah kebutuhan harian ditambah dengan jumlah cairan yang hilang pervaginal
3. Berikan sejumlah cairan pengganti harian
Rasional : Tranfusi mungkin diperlukan pada kondisi perdarahan massif
4. Evaluasi status hemodinamika
Rasional : Penilaian dapat dilakukan secara harian melalui pemeriksaan fisik

b. Gangguan Aktivitas b.d kelemahan, penurunan sirkulasi
Tujuan :
Kllien dapat melakukan aktivitas tanpa adanya komplikasi

Intervensi :
1. Kaji tingkat kemampuan klien untuk beraktivitas
Rasional : Mungkin klien tidak mengalami perubahan berarti, tetapi perdarahan masif perlu diwaspadai untuk menccegah kondisi klien lebih buruk
2. Kaji pengaruh aktivitas terhadap kondisi uterus/kandungan
Rasional : Aktivitas merangsang peningkatan vaskularisasi dan pulsasi organ reproduksi
3. Bantu klien untuk memenuhi kebutuhan aktivitas sehari-hari
Rasional : Mengistiratkan klilen secara optimal
4. Bantu klien untuk melakukan tindakan sesuai dengan kemampuan/kondisi klien
Rasional : Mengoptimalkan kondisi klien, pada abortus imminens, istirahat mutlak sangat diperlukan
5. Evaluasi perkembangan kemampuan klien melakukan aktivitas
Rsional : Menilai kondisi umum klien

c. Gangguan rasa nyaman : Nyeri b.d Kerusakan jaringan intrauteri
Tujuan :
Klien dapat beradaptasi dengan nyeri yang dialami

Intervensi :
1. Kaji kondisi nyeri yang dialami klien
Rasional : Pengukuran nilai ambang nyeri dapat dilakukan dengan skala maupun dsekripsi.
2. Terangkan nyeri yang diderita klien dan penyebabnya
Rasional : Meningkatkan koping klien dalam melakukan guidance mengatasi nyeri
3. Kolaborasi pemberian analgetika
Rasional : Mengurangi onset terjadinya nyeri dapat dilakukan dengan pemberian analgetika oral maupun sistemik dalam spectrum luas/spesifik

d. Resiko tinggi Infeksi b.d perdarahan, kondisi vulva lembab
Tujuan :
Tidak terjadi infeksi selama perawatan perdarahan
Intervensi :
1. Kaji kondisi keluaran/dischart yang keluar ; jumlah, warna, dan bau
Rasional : Perubahan yang terjadi pada dishart dikaji setiap saat dischart keluar. Adanya warna yang lebih gelap disertai bau tidak enak mungkin merupakan tanda infeksi
2. Terangkan pada klien pentingnya perawatan vulva selama masa perdarahan
Rasional : Infeksi dapat timbul akibat kurangnya kebersihan genital yang lebih luar
3. Lakukan pemeriksaan biakan pada dischart
Rasional : Berbagai kuman dapat teridentifikasi melalui dischart
4. Lakukan perawatan vulva
Rasional : Inkubasi kuman pada area genital yang relatif cepat dapat menyebabkan infeksi.
5. Terangkan pada klien cara mengidentifikasi tanda inveksi
Rasional : Berbagai manivestasi klinik dapat menjadi tanda nonspesifik infeksi; demam dan peningkatan rasa nyeri mungkin merupakan gejala infeksi
6. Anjurkan pada suami untuk tidak melakukan hubungan senggama se;ama masa perdarahan
Rasional : Pengertian pada keluarga sangat penting artinya untuk kebaikan ibu; senggama dalam kondisi perdarahan dapat memperburuk kondisi system reproduksi ibu dan sekaligus meningkatkan resiko infeksi pada pasangan.

e. Cemas b.d kurang pengetahuan
Tujuan :
Tidak terjadi kecemasan, pengetahuan klien dan keluarga terhadap penyakit meningkat
Intervensi :
1. Kaji tingkat pengetahuan/persepsi klien dan keluarga terhadap penyakit
Rasional : Ketidaktahuan dapat menjadi dasar peningkatan rasa cemas
2. Kaji derajat kecemasan yang dialami klien
Rasional : Kecemasan yang tinggi dapat menyebabkan penurunan penialaian objektif klien tentang penyakit
3. Bantu klien mengidentifikasi penyebab kecemasan
Rasional : Pelibatan klien secara aktif dalam tindakan keperawatan merupakan support yang mungkin berguna bagi klien dan meningkatkan kesadaran diri klien
4. Asistensi klien menentukan tujuan perawatan bersama
Rasional : Peningkatan nilai objektif terhadap masalah berkontibusi menurunkan kecemasan
5. Terangkan hal-hal seputar aborsi yang perlu diketahui oleh klien dan keluarga
Rasional : Konseling bagi klien sangat diperlukan bagi klien untuk meningkatkan pengetahuan dan membangun support system keluarga; untuk mengurangi kecemasan klien dan keluarga.
4. Evaluasi
·        Tidak terjadi deficit volume cairan, seimbang antara intake dan output baik jumlah maupun kualitas.
·        Klien dapat melakukan aktifitas tanpa adanya komplikasi
·        Klien dapat beradaptasi dengan nyeri yang dialami
·        Tidak terjadi infeksi selama perawatan perdarahan
·        Tidak terjadinya kecemasan klien dan keluarga dan dapat meningkatkan pengetahuan tentang penyakit yang ada.






Contoh kasus Klien dengan Abortus Insipiens :
          Ny. A berusia 25 tahun masuk kerumah sakit dengan keluhan nyeri abdomen dan terjadi perdarahan, diusia kehamilan 16 minggu. Dia mengatakan sering merasa mulas, kram perut bagian bawah, dia juga mengatakan bahwa pernah mengalami abortus sebelumnya. Ny. A mengatakan ia merasa cemas terhadap penyakitnya tersebut karena ia tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya.
Dari pemeriksaan fisik pada abdomen tidak terdapat nyeri tekan. Uterus dapat teraba pra abdomen.
A. Diagnosaa keperawatan
1.     Deficit volume cairan b/d perdarahan
2.     Gangguan aktifitas b/d kelemahan, penurunan sirkulasi
3.     Gangguan rasa nyaman : nyeri b/d kerusakan jaringan intra auteri.
4.     Resiko tinggi infeksi b/d perdarahan, kondisi vulva lembab
5.     Cemas b/d kurangnya pengetahuan.
B. Intervensi keperawatan
1.     Deficit volume cairan b/d perdarahan
a.     kaji kondisi status hemodinamika
b.     ukur pengeluaran harian
c.      Berikan sejumlah cairan pengganti harian
d.     Evaluasi status hemodinamika
2.     Gangguan sktifitas b/d kelemahan, penurunan sirkulasi
a.     kaji tingkat kemampuan klien untuk beraktifitas
b.     kaji pengaruh aktifitass terhadap kondisi uterus
c.      Bantu klien untuk memenuhi kebutuhan aktifitas sehari-hari.
d.     bantu klien untuk melakukan tindakan sesuai kemampuan/kondisi klien.
e.      evaluasi perkembangan kemampuan klien melakukan aktifitas.
3.     Gangguan rasa nyaman : nyeri b/d kerusakan jaringan intra auteri
a.     kaji kondisi nyeri yang dialami klien
b.     jelaskan nyeri yang diderita klien dan penyebabnya
c.      kolaorasi pemberian analgetik


4. Resiko tinggi infeksi b/d perdarahan dengan kondisi vulva lembab.
a.     kaji kondisi keluar atau dischart yang keluar : jumlah warna dan bau.
b.     terangkan pada klien pentingnya perawtan vulva selama masa perdarahan
c.      lakukan pemeriksaan biakan pada dischart.
d.     anjurkan pada suami untuk tidak melakukan hubungan senggama selama masa perdarahan.
5. Cemas b/d kurangnya pengetahuan
a.     kaji tingkat pengetahuan atau persepsi klien dan keluarga terhadap penyakit.
b.     Bantu klien mengidentifikasi penyebab kecemasan
c.      terangkan hal-hal seputar aborsi yang perlu diketahui oleh klien dan keluarga

C. Implementasi 
1.     Devisit Volume cairan
a.     Mengkaji kondisi status hemodinamika
b.     Mengukur pengeluaran harian
c.      Memberikan sejumlah cairan pengganti harian
d.     Mengevaluasi status hemodinamika
2.     Gangguan aktifitas b/d kelemahan, penurunan sirkulasi
a.     Mengkaji tingkat kemampuan klien untuk beraktifitas
b.     Mengkai pengaruh aktifitas terhadap kondisi uterus / kandungan
c.      Membantu klien untuk memenuhi kebutuhan aktifitas sehari-hari
d.     Membantu klien untuk melakukan tindakan sesuai kemampuan/kondisi klien.
e.      Mengevaluasi perkembangan kemampuan klien melakukan aktifitas.
3.     Gangguan rasa nyaman : nyeri b/d kerusakan jaringan intra auteri
a.     Mengkaji kondisi nyeri yang dialami klien
b.     menerangkan nyeri yang diderita klien dan penyebabnya
c.      mengkolaborasikan pemberian analgetik
4.     Resiko tinggi infeksi b/d perdarahan, kondisi vulva lembab
a.     mengkaji kondisi keluaran / dischart yang keluar : jumlah, warna, dan bau
b.     menerangkan kepadan klien pentingnya perawatan vulva selama masa perdarahan
c.      melakukan pemeriksaan biakan pada dischart
d.     Menganjurkan pada suami untuk tidak melakukan hubungan senggama selama masa perdarahan.
5. Cemas b/d kurangnya pengetahuan
a.     Mengkaji tingkat pengetahuan atau persepsi klien dan keluarga terhadap penyakit.
b.     Membantu klien mengidentifikasi penyebab kecemasan
c.      Menerangkan hal-hal seputar aborsi yang perlu diketahui oleh klien dan keluarga



















DAFTAR PUSTAKA
Carpenito, Lynda, (2001), Buku Saku Diagnosa Keperawatan, Penerbit Buku Kedokteran
EGC, Jakarta
Hamilton, C. Mary, 1995, Dasar-dasar Keperawatan Maternitas, edisi 6, EGC, Jakarta
Mansjoer, Arif, dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid I. Media Aesculapius. Jakarta
Cunningham FG, MacDonald PC,Gant NF. Abortion. In Williams Obstetrics 20th Ed.  Appleton Lange, 1997, p 579
Arias F. Early pregnancy loss. In Practical Guide to High Risk Pregnancy and Delivery. St Louis,  Mosby Year Book,1993, p57ng

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar